Selasa, 03 Juli 2018

Cerita Motivasi Kehidupan Seperti Terdampar di Sebuah Pulau

Cerita Motivasi Kehidupan Seperti Terdampar di Sebuah Pulau

Enam tahun yang lalu, Anton serta Yuli berpesiar mengitari Pasifik Selatan saat badai tropis yang dahsyat mengakibatkan kerusakan lambung kapal. Beberapa penumpang terjatuh dari kapal serta terjungkal ke aliran air yang deras serta gelap sedalam 50 kaki. Anton serta Yuli termasuk diantara penumpang yang terjungkal ke air yang dingin malam itu. Dengan cemas mereka mencapai puing-puing kapal serta memegangnya dengan sekuat tenaga, melakukan apapun yang bisa menolong supaya kepala mereka masih ada diatas permukaan air. 

Esok harinya, Anton terikut arus ke suatu pulau yang kecil serta tak berpenghuni. Sedang Yuli terikut arus ke pulau tetangga, yang juga tak berpenghuni, kurang lebih 2 mil jaraknya dari Anton. 

Sesudah keterkejutan awal tentang kondisi itu mulai menyusut, ketakutan serta kecemasan pun menguasai. Mereka tahu kalau hal itu akan tidak gampang. Mereka mesti berusaha keras membangun tempat berteduh, memungut buah-buahan, mencari air bersih, juga memancing untuk mencari makanan. Beberapa waktu pertama sangat menakutkan serta berat, namun mereka berdua sukses membuat tempat berteduh membuat perlindungan mereka dari hujan serta cahaya matahari. Jauh ke dalam pulau, mereka sukses mendapatkan aliran air bersih, mereka juga belajar mencari kepiting serta menangkap ikan. 

Pada senja hari, Anton mempunyai waktu untuk beristirahat sesudah sepanjang hari berusaha keras. Ia memanjat karang favoritnya serta memerhatikan deburan ombak yang menghempas ke batu karang. Saat matahari tenggelam serta bintang-bintang mulai menyinari langit, Anton mengimpikan galaksi yang jauh serta berdoa mudah-mudahan ia selekasnya diketemukan. 

Sehari-hari Yuli juga berjuang untuk bertahan hidup. Seperti Anton, ia mengawali harinya waktu matahari terbit. Memotong kayu, memanjat pohon untuk mengambil buahnya, mengambil biji-bijian dan buah beri, memancing dan mengambil air adalah kesibukannya. Sesudah merampungkan kebiasaan hariannya, Yuli mendambakan waktu untuk bersantai di tepi pantai, namun ia paham kalau ia bukan sekedar ingin bertahan hidup. Yuli ingin pergi dari pulau itu. 

Setiap siang, Yuli habiskan beberapa jam tambahan untuk menghimpun serta menaruh kayu. la pernah menguji coba nyaris semuanya kayu di pulau itu untuk melihat kayu type apa yang membuahkan asap paling gelap serta tebal. la menghimpun batu dengan beragam ukuran serta memakainya untuk bikin tulisan ’TOLONG' raksasa di pantai yang menyebar di keempat penjuru pulau. Yuli juga menggali lubang di beberapa daerah di pantai untuk menaruh beberapa besar kayu kering serta tumbuhan spesial. 

Lantaran kerap hujan, Yuli senantiasa ganti kayu serta tumbuhan yang basah dengan simpanan yang kering. Tulisan batunya yang menyebar di empat penjuru pulau juga butuh dijaga serta diperhatikan. Lantaran tidak mau menyerahkan nasibnya ke tangan tim penyelamat yang mungkin saja akan tidak sempat hadir, Yuli mulai bangun rakit dari bambu serta ranting-sedikit demi sedikit. 

Sudah pasti Yuli tak lupa beristirahat. Waktu favoritnya selama seharian yaitu waktu matahari tenggelam. Yuli akan mengambil segenggam penuh biji-bijian dan buah beri yang telah dipetiknya serta berjalan ke arah pantai lalu duduk dibawah pohon palem favoritnya. la juga bakal memikirkan keluarganya serta memikirkan rasa kue coklat buatan ibunya. Dan selama waktu-waktu berikut, ia akan habiskan sebagian menit untuk pikirkan gagasan penyelamatannya. 

Hari demi hari, tanpa ada keriuhan atau penghargaan, Anton serta Yuli melaksanakan apapun yang perlu mereka kerjakan untuk bertahan hidup. Sesudah sebagian minggu tanpa ada peristiwa spesial, hari yang ditunggu-tunggu ini juga tiba. Yuli tengah memungut buah-buahan di dekat pantai serta Anton tengah menangkap kepiting saat keduanya-hampir pada waktu yang bersamaan menyaksikan suatu pesawat terbang kecil dari kejauhan. 

Yuli segera melakukan tindakan. la menyalakan api serta manggunakannya untuk membakar setumpuk kayu. Lalu ia juga menjatuhkan tumbuh-tumbuhan kering di atasnya serta dengan bantuan obor kayunya, ia membakar setumpuk kayu. Kemudian berlari untuk memberikan kayu serta tumbuh-tumbuhan ke dalam api. Asap juga membumbung penuhi udara serta langit diatas pulau tempatnya berada. 

Selain itu, Anton malah kalut. Ia lari berputar berupaya mencaritahu apa hal paling baik yang harus ia kerjakan. la meraba-raba, berupaya menyalakan api, dan saat ia sukses mengerjakannya, ia sangatlah kecewa lantaran api itu tak menyebabkan banyak asap. la lari menuju rimba serta mengambil tumbuh-tumbuhan yang bisa ia dapatkan serta menambahkannya ke api. Tetapi, tumbuhan yang ia pungut malah mematikan apinya serta Anton menggunakan sebagian menit yang bernilai untuk menyalakan api sekali lagi. Setiap saat ia memberikan tumbuhan ke api untuk membuat semakin banyak asap, apinya justru bakal mati serta ia memakan banyak waktu mencoba menyalakan api yang baru sekali lagi. 

Pesawat ini berbalik serta terbang menuju pulau-pulau itu. Saat makin mendekat, Anton mengerti kalau pesawat ini tak terbang menuju dirinya, namun menuju sebagian mil ”di luar jalurnya”. Pesawat itu melingkari pulau tempat Yuli ada serta datang sebagian ratus yard terlepas pantai. Dua orang penyelamat melompat keluar dari pesawat serta dengan rakit mulai bergerak ke arah Yuli. Saat mereka makin mendekat, Yuli lihat ke seputarnya untuk paling akhir kalinya serta melompat ke laut lalu berenang menuju rakit. Beberapa menit kemudian, Yuli telah mengudara. Sang pilot ajukan pertanyaan kepadanya adakah orang lainnya yang perlu diselamatkan dan Yuli memberitahunya kalau cuma ada ia seseorang saja. 

Lantaran sangatlah menginginkan perhatian mereka, Anton berlari-lari di pantai sembari melambai-lambaikan tangannya ke udara sembari berteriak penuh putus harapan. Saat pesawat bergerak menjauh, Anton sadar ia telah kehilangan kesempatannya. 

Anton sukses bertahan hidup. Ia selamat sesudah meloncat ke air dengan ketinggian 50 kaki, bertahan hadapi badai yang dahsyat, sukses sampai tanah yang kering, membangun tempat berlindung, serta mendapatkan makanan juga air. Yuli juga selamat. la melaksanakan beberapa hal terpenting supaya bisa bertahan hidup sehari-hari, namun ia mempunyai gagasan besar, ia menghendaki hidup yang tambah baik. la ingin berjumpa keluarganya lagi, makan coklat, serta membaca cerita cinta. Ia ingin memeluk beberapa rekannya serta dengarkan lantunan lagu gereja. Ia ingin bermain-main dengan anjingnya, melihat pertunjukkan drama, serta hidup sampai tua bersama dengan suaminya. la mesti bertahan hidup di pulau itu, namun ia membuat ketentuan kalau cuma bertahan hidup tidak mencukupi. 

Pelajaran yang bisa ditarik dari pengalaman Anton serta Yuli bukan sekedar berlaku untuk beberapa orang yang terdampar di pulau terpencil. Cerita mereka diperdengarkan di semua penjuru dunia-di kota kecil serta kota besar, di restoran, serta di beberapa pojok kantor, serta untuk mereka yang berpendapatan rendah sampai mereka yang tengah meraih tingkat yang lebih tinggi. 

Bila Anda terasa seakan-akan terdampar di pulau yang penuh kemonotonan, tagihan-tagihan yang belumlah terbayar, serta mimpi-mimpi yang terlupakan, atau tengah merasakan diri Anda mengimpikan kehidupan yang lainnya namun tidak paham bagaimanakah cara untuk meraihnya, jadi. cuma ada satu jalan keluar untuk hal itu, yaitu dengan melakukan waktu-waktu luang dengan tindakan yang akan membawa kita ke tujuan.