Senin, 17 Desember 2018

50 Kata Mutiara Embun Pagi Penuh Makna dan Arti


Ketika kita merasakan hal-hal yang begitu indah dan penuh kenangan, hal itu akan mengingatkan kita pada embun pagi yang bersahaja. Lembutnya... Dinginnya... Sejuknya... Adalah sesuatu yang akan kita rasakan bersama embun pagi.

Bagaimana pun suasana embun pagi, sangat cocok untuk menemani segala rasa yang ada di dada. Ketika kita bahagia, embun pagi layaknya penambah semangat untuk melewati hari yang indah. Sedangkan ketika sedih, embun pagi bisa menemani sebagai penghibur duka lara.

Itulah mengapa embun pagi begitu spesial, karena embun pagi memberikan sesuatu yang berbeda, sehingga kita akan selalu mengingat momen bersama embun pagi. Ketika merasakan embun pagi, mungkin kita akan dibawa ke masa kecil yang menyenangkan. Bisa juga kita dibawa pada perasan saat berdua bersama kekasih.

Kumpulan Kata Mutiara Embun Pagi


Itulah embun pagi, ia begitu spesial. Banyak orang mengekspresikan embun pagi dengan kata-kata yang indah, atau lebih kita kenal dengan "Kata Mutiara Embun Pagi".

1. "Tetes embun pagi, menikmati hari menanti gerak tak terganti."

2. "Nangis aja yang kenceng gapapa. Apa gunanya oppa punya sepuluh jari kalau tidak bisa dibuat menghapus tangisan Dongi yang jatuh dari kedua mata Dongi yang begitu jernih seperti embun di pagi hari??"

3. "Gemerlap bintang di malam hari, ternyata menunggu jatuhnya embun di pagi hari."

4. "Bagai embun pagi kau lepaskan dahaga kemarau hati."

5. "Pagi mengajarkan kita bahwa segala sesuatu selalu diawali dengan rasa syukur dan embun adalah tanda keiklasannya."

6. "Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja yang menemanimu sebelum cahaya."

7. "Bagaikan embun membasah daun. Ia rela kering tak berbekas untuk kesirnaan di bakar sinaran mentari pagi nan haus. Kebersamaan atau keberpisahan hanyalah kisah perjalanan dari hati yg penuhi penghabisan di ujung hikmah pencapaian puteri impian."

8. "Butiran embun pagi yang sejuk, penyejuk hati di pagi hari. Selamat pagi, awali harimu dengan hal yang positif."

9. "Perlahan sisa tetesan embun yang hinggap di atasnya sirna seiring dengan pagi yang semakin tua. Di tempat yang penuh kenangan ini aku masih menunggunya dengan setia. Bagiku, setia tidak pernah
sia-sia."

10. "Aku ingin mencintaimu, lebih tenang dari tidur, lebih pagi dari embun. "

11. "Kelopak mawar merah basah oleh embun pagi yang terperangkap semalam. Bila mawar itu kamu, tetes embun itu adalah hasratku. Pada merahmu yang membara, meleleh saat menggelutimu semalam. Bila siang kau tak temuiku, jangan salahkan mentari. Aku dan hasratku masih di sini."

12. "Hari esok telah tiba, dimana embun pagi menyapa. Hai gadis manis mengapa engkau menangis? Jangan bersedih, dia tidak pantas untukmu, bukan disitu tempatmu berlabuh."

13. "Kowe ki ibarat embun pagi seng menyejukan tapi sayang aku ora tau eroh mergo tangiku awan."

14. "Harum fajar bangunkan insan. Embun pagi segarkan raga."

15. "Tidurlah diri buang segala rasa benci dihati, agar pagimu sesuci embun pagi yang tidak pernah jemu menunggu sinar mentari. Biar siangmu terang hingga senja melabuhkan hari."

16. "Selamat pagi embun, yang setia menyambut pagi hariku."

17. "Kurinduimu di hening pagi, seperti embun menunggu mentari ketika gigil udara luluh dalam secangkir kopi. Kurindu matamu yang intan kala hujan mendendangkan nyanyian di sebuah kedai tepi jalan. Kurinduimu di setiap sudut ingatanku dalam helai nafas dan detak jantungku."

18. "Selarik bayang dalam segelayut embun pagi  Menjamu matahari yang akan menyapa dunia, Selamat Pagi."

19. "Imajinasi menggambarkan pagi menyambut senyum asli tanpa ilusi. Merekah tulus halus meluncurkan embun embun santun tak ternodai. Kelak akan ku kecup saat hening dalam ikatan suci."

20. "Tatkala pagi tiba dengan aroma, suasana dan jiwa yang kuharap bersahaja. Teruntuk kamu yang dijatuhi embun kala itu."

21. "Di antara kerimbunan daun lara banyak untaian dahan yang mendekap. Sudah ku biarkan masa lalu terbawa angin malam. Kini hanya tersisa jutaan masalah yang tak terbawa oleh embun pagi. Biarlah semua menjadi risalah kehidupan."

22. "Merekah mewangi bersama embun pagi, tersenyumlah sambut mentari, kasih."

23. "Semesta berkata kenapa saya harus takut sendirian?  Sementara sinar mentari,  embun pagi dan oksigen di bumi masih setia menari dan menemani?"

24. "Embun pagi adalah lelehan air mata kerinduan. Yang tak mampu lagi diterjemahkan menjadi sebuah pertemuan. Ada yang terasa hilang tiap saat mentari datang."

25. "Cahaya mentari mengingatkan saya akan indahnya wajahmu. Embun dan kabut pagi mengingatkan saya kepada pandangan matamu yang sayu. Dan yang membuat saya tergila-gila yaitu ketika saya mendapatkan senyuman manis darimu."

26. "Tiduran sejenak, pejamkan mata lalu merasakan hembusan angin dan embun di pagi hari."

27. "Air mata embun pagi luruh tersapu lenganmu nan lembut sambil berucap "sabarlah sayang kita sedang di uji" serasa dada ini lapang menerima senja yang berpulang."

28. "Di beranda rumahku aku masih berdiri. Menunggu mentari menyibak embun pagi yang begitu dingin. Hari ini ku berjalan membawa langkahku pada cita dan cinta yang kan ku raih."

29. "Selirih bisikan embun pagi yang merindu pada mentari kala melihat sinarnya yang tersembul diantara semak belukar."

30. "Pagi yang cerah menyapa embun embun. Menyapu tanah basah, banyak air yang tertumpah. Semoga menjadi berkah untuk kita semua."

31. "Malam bergegas, matahari sedang berdandan. Embun membasuh mata insomnia. Gerbang pagi terbuka bagi jiwa yang selalu telaten menyebut nama kekasih."

32. "Kepada embun, yang meminjam matahari menerangi bumi. Kepada pagi, yang menyisakan tanya seribu janji. Sampaikan pada malam rinduku makin tenggelam. Kan ku tunggu di simpang jingga yang merona. Jangan biarkan rindu menikam sepi sendirian. Jangan biarkan sepiku gentayangan."

33. "Setetes embun kala iringi fajar tersibak oleh pagi. Kau bawa  aku tegarkan hati iringi hari."

34. "Aku ingin mencintaimu seperti sesetia pagi yang menanti embun untuk datang kembali."

35. "Aku bisa menjadi sedingin es atau bahkan menjadi sepanas api, tapi aku juga bisa menjadi sesejuk embun pagi, tapi itu juga semua tergantung bagaimana aku diperlakukan."

36. "Pagi dan malam hanya tunggal di wajahmu, Kekasih. Senyummu embun hidupku."

37. "Embun membasahi dunia dan mulai mengawali hari ini. Kicau burung bernyanyi dan ku siap tuk jalani hari ini. Selamat pagi! Bergegaslah siapkan dirimu dan mulai hari ini dengan semangat membara."

38. "Pagi memeluk sepi. Bulir-bulir embun meneteskan cinta yang tulus dedaunan. Pada tanah yang t'lah memberinya kehidupan."

39. "Di hatimu, aku adalah embun pagi. Berkilau sesaat sebelum beranjak pergi. Sebab ketika siang menjelang. Engkau lebih mencintai matahari."

40. "Pagi ini, Tetes embun membasahi taman hatiku. Menapaki serpihan rindu yang mungkin kau tahu, di celah itu aku menunggumu. Yah, menunggu jawaban atas penawaran pinangan ku."

41. "Aku embun yang menanti pagi, untuk jatuh di matamu yang berderai. Berharap bisa menghapus derita sebuah hati, lesap, lalu menjadi cerita yang dibawa mentari."

42. "Sebening embun pagi yang selalu berjanji untuk membuka hari, membasuh lelah yang terpendam, Semoga gerbang pagi membuka Rahmatnya."

43. "Aku ingin engkau tau, Tuan. Lewat elegi embun pagi; kukirimkan sekerat do'a dan segelas puisi paling diksi; agar engkau mengerti, bahwa rinduku takkan pernah habis sekalipun diterpa hujan ini."

44. "Pada dinginmu yang serupa pagi ini, aku masih terus mencintai mu. Selembut embun dan sehangat kopi."

45. "Hitam yang akan menang, menyerang terang, tapi tetap berseri bila fajar bersama mentari. Yang akan selalu menari bersama embun pagi."

46. "Baru saja, kutenggelamkan rindu sedalam-dalamnya bersama senja, agar nanti bila pagi datang ia tetap ada sebagai embun yang jatuh membasahi hatimu."

47. "Ada yang melesat setiap kali pagi menghilang. Bukan butir embun yang menggumpal di lengkung dedaunan. Melainkan wajahmu yang selalu hadir di mimpi."

48. "Jika malam adalah luka, embun pagi penawarnya. Tapi senja adalah ingatan yang jauh, ia tertinggal di batas luka."

49. "Mencintaimu senatural mungkin. Tanpa kemunafikan duniawi. Seperti malam yang setia menunggu pagi. Seperti embun yang rela habis terkikis mentari."

50. "Suara mulai parau namun untuk merinduimu aku bersenandung merdu, semerdu burung menyambut pagi. tetes embun penawar kepingan hari, mengutuhkan serpihan rindu menuju kotamu saat nanti."

Malam yang dingin akan segera berlalu, bersama datangnya mentari yang membawa embun pagi sebagai tanda perpisahan dan juga awal yang baru. Selamat tinggal malam dan selamat datang siang. - indoquotes.com